lundi 19 février 2007

Geodesi, Pengukuran dan Pemetaan untuk Awam

by: Lukas Silaban*

Keyword: Geodesy, Geodetic, Geodet, Survey, Mapping,
Peta, Geo-reference, Kartografer, Kartografi

Pendahuluan
Di dalam banyak bidang pekerjaan, kita sering
menggunakan sebuah peta sebagai dasar rencana kerja.
Kita sering tidak mengetahui bagaimana peta itu
dihasilkan, siapa yang terlibat, proses-proses yang
terjadi di dalamnya, bagaimana keandalan peta
tersebut.

Dalam tulisan ini, saya ingin memberikan pemahaman
mengenai bagaimana proses pembuatan peta untuk dapat
dipahami oleh orang awam. Sebelum melangkah ke
pembahasan tersebut, saya memberikan pengertian
mengenai Geodesi dan Pengukuran terlebih dahulu.

Ketika saya menulis ini, saya semakin menyadari tidak
mudah untuk menerangkan sesuatu secara mudah.
Mudah-mudahan dengan adanya tulisan ini, orang-orang
yang awam dengan ketiga hal diatas tidak lagi menjadi
awam. Saya juga mengharapkan banyak masukan dari
teman-teman pembaca sekalian untuk memberikan masukan,
pertanyaan maupun komentar yang membangun melalui
kotak komentar yang ada di bagian bawah tulisan ini.

Geodesi
Geodesi adalah sebuah disiplin ilmu yang mempelajari
tentang bentuk bumi. Disiplin ilmu ini telah
berabad-abad secara keras mencoba menentukan dimensi
bumi secara horizontal maupun vertikal. Eratosthenes
merupakan sebagai bapak ilmu Geodesi karena ia
diketahui sebagai yang pertama kali bereksperimen
dalam menentukan bentuk bumi. Saat ini, dengan
perkembangan teknologi yang semakin canggih, bentuk
bumi dipantau secara terus-menerus dengan mendirikan
ribuan titik kerangka di permukaan bumi yang
direferensikan pada satelit.

Cukup sulit untuk menjelaskan penerapan geodesi secara
mudah, tapi anda dapat membayangkan bahwa sebuah
bentuk dapat dibangun oleh banyak titik. Misalnya
garis, dibentuk oleh 2 titik, kemudian segitiga
dibangun oleh 3 titik, bola dibangun oleh banyak
titik, maka bumi juga dapat dimodelkan dengan banyak
titik. Titik-titik inilah yang disebut dengan ribuan
titik kerangka yang saya maksud diatas. Sehingga dari
titik-titik inilah dapat diturunkan model bentuk bumi.

Dengan mengacu pada model bentuk bumi tersebut kita
dapat membuat peta dunia, peta kota, peta jaringan
jalan, peta jaringan drainase, peta blok perumahan,
perhitungan pergerakan lempeng, penurunan lahan, peta
kedalaman laut peta daerah banjir, kenaikan muka air
laut, sistem informasi geografis (SIG / GIS), dan
sebagainya yang bersifat geo-refence atau bereferensi
bumi.

Pengukuran (Surveying)
Pengukuran adalah sebuah teknik pengambilan data yang
dapat memberikan nilai panjang, tinggi dan arah
relatif dari sebuah obyek ke obyek lainnya. Pengukuran
terletak diantara ilmu geodesi dan ilmu pemetaan.
Hasil penelitian geodesi dipakai sebagai dasar
referensi pengukuran, kemudian hasil pengolahan data
pengukuran adalah dasar dari pembuatan peta.

Untuk melakukan sebuah pengukuran diperlukan
perencanaan dan persiapan terlebih dahulu agar hasil
yang diperoleh dapat digunakan secara efektif dengan
waktu, biaya dan tenaga pengukuran yang efisien.

Pengukuran memerlukan alat ukur. Theodolite,
waterpass, meteran, total station, gps, echosounder,
sextant adalah contoh-contoh alat ukur.

Pemetaan
Pemetaan adalah proses pembuatan peta berdasarkan
olahan data hasil pengukuran. Bidang ilmu yang
mempelajari pembuatan peta ini disebut dengan
kartografi, sedangkan ahlinya adalah kartografer. Pada
saat ini, pembuatan peta lebih banyak dilakukan secara
digital karena lebih cepat, lebih teliti, tidak
memakan ruang dan dapat dianalisis ulang sebelum
diproduksi. Pemahaman yang baik mengenai Sistem
Proyeksi dan Sistem Koordinat bumi merupakan hal dasar
yang harus diketahui oleh seorang kartografer.

Sistem Proyeksi merupakan aturan, nilai-nilai dan
model yang memberikan nilai konversi ketika bentuk
bumi yang tidak datar dibuat menjadi datar atau dibuat
menjadi bidang proyeksi. Data hasil pengolahan
pengukuran yang dimasukkan ke dalam sebuah sistem
proyeksi akan mengalami pendataran dan memiliki
kesamaan secara bentuk atau sudut dalam skala
tertentu. Contoh sistem proyeksi adalah Mercator,
Transverse Mercator, Azimuthal, Conic, dsb.

Setelah melalui Sistem Proyeksi, data tersebut akan
melalui tahap pemetaan berikutnya yaitu pemberian
nilai koordinat dalam sebuah Sistem Koordinat. Sistem
ini membagi bidang proyeksi bumi ke dalam zona-zona
berukuran tertentu. Contoh Sistem Koordinat adalah
Universal Transverse Mercator yang membagi zona dalam
ukuran 6 derajat bujur serta 2 bagian bumi di lintang
utara dan lintang selatan.


Kesimpulan
Peta adalah sebuah model dari obyek atau banyak obyek
yang bereferensi bumi. Di dalam proses pembuatan peta,
ada banyak asumsi dan pemodelan yang dilakukan. Hal
ini dimulai ketika bumi dimodelkan secara geodesi,
diukur atau direkam dengan menggunakan asumsi-asumsi
dan metoda pengukuran tertentu, serta dipetakan ke
dalam bidang proyeksi dan koordinat tertentu.

Untuk memperoleh nilai asli di permukaan bumi dari
data peta, maka nilai yang ada di peta harus
dikonversi melalui kebalikan dari tahap-tahapan
seperti diatas.

Ketiga bidang tersebut memiliki ahlinya atau
spealisasi masing-masing. Geodet merupakan ahli
Geodesi, Surveyor merupakan ahli Pengukuran kemudian
Kartografer adalah ahli Pemetaan.

*Penulis adalah seorang Insinyur Geodesi yang bekerja di PT. Mitra Lingkungan Dutaconsult, Jakarta.

1 commentaire:

milonerva a dit…

Artikel yg menarik!
Mau tanya, spatial analyst dan GIS termasuk bidang keahlian Geodesi ya?